For u
Hai, episode kali ini gue mau cerita. Gue enggak bermaksud apapun, gue hanya ingin mengeluarkan sampah pikiran gue. Gue enggak mu menumpuknya lama dan menyakiti diri gue sendiri. So, lets start!
Gue punya temen, enggak usah sebut nama tapi gue pakai inisial aja. Langsung ke inti ceritanya aja, ya. Kemarin itu kan ada pengumuman hasil seleksi dari lemabaga pemagangan Jepang. Seleksinya sih dari Desember tahun lalu dan baru aja diumumin kemarin, janji 2 bulan eh... jadinya 6 bulan pengumuman. Nah gue tuh dari awal optimis dan yakin kalau gue bisa dan gue pasti lolos. dan benar aja, pas kemarin pengumuman nama gue ada didaftar yang otomatis gue lolos. Terus ada nih temen gue yang ngechat bilang, "Ra, kamu diterima. Aku enggak, sedih aku enggak diterima." Pas itu aku juga sedih sekaligus ya... seneng juga sih karena diterima. Sebagai teman dekat dan seperjungan waktu seleksi gue bisa ngerasain sedihnya dong, apalagi gue pernah kan ada diposisi kayak gitu. Gue bilang kan ke dia dengan niatan mau menghibur dan menularkan energi positif, "Udah enggak apa-apa, kamu jangan sedih... masih ada kesempatan lain. Jangan sedih, pokoknya pasti ada jalan." Tapi setelah itu dia enggak bales chat gue. Gue tebak dia langsung nangis. Gue enggak tahu apa yang buat dia bener-bener sedih, padahal semalam sempat chattingan dan bahas gini.
"Kalau kamu enggak keterima di itu gimana?"
"Ya enggak apa-apa, setidaknya enggak terlalu sebel karena ini udah unek-unek."
Tapi pada kenyarannya, dia over sad. Entah karena gue keterima dan dia enggak makanya dia sedih, karena secara gue temen dekatnya, tesnya bareng, gue keterima dan dia enggak. Jujur ya, gue enggak tahu kenapa mendadak perasaan gue enggak enak. Gue kepikiran lo pasti sedih banget, gue pengen hibur, gue pengen lo bangkit, gue mau support, tapi pesan gue aja belum dibales. Gue bingung, jadi gue milih biarin waktu yang nyembuhin. Terus tiba-tiba dia ngepost foto lagi main sama temen-temen yang lain. Gue kan tanya ke salah satu temen gue yang lain, "Kenapa engga ngajak? Gue juga kan pengen ngehibur dia." Terus dia bilang, "Takut dia tambah sedih karena lihat kamu kan keterima. Kamu tahulah dia gimana." Aku jawabnya bingung, mendadak ada rasa salah yang nyantol. Apa aku keterima aku salah? Kebahagiaan ku buat orang lain sedih. Lalu tiba-tiba ada satu pertanyaan yang melintas... "Gimana kalau keadaannya dibalik?" Yang lain belum tentu seefort itu ngehibur aku karena mereka tahu aku kuat, aku strong, aku struggle, aku bisa cari jalan lain... kenyataannya enggak, kok. Cover doang kuat, isinya mah jauh lebih kuat sih, hehehe.
Gue mau diucapin sama orang-orang terdekat gue. Meski baru hasil penerimaan dan belum tahapan selanjutnya, ya. Gue pengen dikasih ucapan selamat, doa, semangat dari mereka. Tapi ya... ada yang ngucapin sih ada juga yang enggak. Tapi aku tetap bersyukur karena... orang-orang yang enggak aku sangka itu pada kasih support. Dan saat itu aku ngerasa aku enggak sendiri, kebaikan selalu datang dari hal yang tidak terduga, jadi... terus tebar kebaikan.
Kalau emang mikir tulisan ini buat judge dia atau ngejelekin ya... itu tergantung persepsi kalian saja. Tapi... niat ku enggak gitu. Gue mau bilang kalau... lo enggak sendiri, gue masih terbuka kalau lo minta bantuan. Lo harus yakin sama potensi yang ada dalam diri lo, harus yakin sama usaha yang lagi dikerjain. Inget kan, gue selalu bilang kita itu harus yakin dan optimis, insyaallah pasti ada jalannya. Jangan berlarut dalam segala hal, apapun jalannya lo harus tetap bangkit, semangat, jangan mau kalah sama diri lo sendiri, jadikan ini bahan bakar buat lo melesat lebih jauh.
Pengecut ya, gue enggak bisa ngomong langsung. Chat aje suseh jadi... i percaya waktu selalu baik.
Komentar
Posting Komentar