TENTANG MEREKA

 Selamat malam, aku menulis blog ini di malam hari. Pada malam yang sunyi dan tenang. Di mana hanya suara jangkrik yang terdengar menggema. Malam yang sunyi akhirnya membuatku larut pada kejadian siang hari, di mana aku melihat mereka yang bekerja di balik layar. 

Aku terpilih menjadi panitia PPDB di sekolah ku. Aku dibagian input data. Dan aku... akan bercerita tentang apa yang aku lihat. 

Ada seorang calon siswa yang hendak mendaftar, dia masuk ruang verifikasi bersama dengan gurunya. Ternyata dia dari sekolah swasta, bukan negeri. Guru itu tidak hanya membawa satu siswa, melainkan lebih dari lima siswa. Mereka berangkat pagi, dan kebagian antrian di siang hari. Aku kebagian salah satu di antara siswanya. Saat aku mengecek datanya aku bertanya, "Ini belum terdaftar, bisa buka akun dari hapenya?"

Dia berkata, "Bisa."

Anak itu membuka hapenya, namun sayang. Jaringannya lambat. Alhasil, server sangat susah untuk dibuka. Dia memanggil guru yang mendampinginya. Guru itupun ikut menunggu. Server sangat lama dibuka. Aku, anak itu, dan guru sama-sama menunggu. Kulihat wajah si gurunya, dia berkeringat, wajahnya cemas. Oh Tuhan, aku bisa mengerti bagaimana perasaan si guru itu. Pasti dia sedang memikirkan apakah anak muridnya bisa terdaftar atau tidak. Hatiku tersentuh, perjuangannya begitu besar. Aku bisa mengerti betul bagaimana kecemasannya antara hidup dan mati. Aku melihat wajah si anak, diapun sama cemasnya. 

Kemudian salah satu anak muridnya yang sudah terverifikasi mendekat. 

"Pak, saya sudah terdaftar."

Guru itu menoleh. "Alhamdulillah, tunggu di luar, ya. Pulangnya barengan."

"Iya, Pak!"

Bisa kulihat ada sedikit kelegaan di wajah sang guru. Hanya sedikit kelegaan. Aku melihat wajah si anak, dia gelisah. Mungkin dia berpikir. Temanku sudah, kenapa aku belum? 

Lantas saking lamanya menunggu server bisa diakses, sang guru mengeluarkan ponselnya—ikut membantu mengakses. 

Ya Tuhan, aku sungguh terharu. Setahun yang lalu aku juga berada di posisi mereka. Jadi aku tahu betul, bagaimana perasaan mereka antara hidup dan mati. 

Sampai akhirnya, mereka menunggu lama dan anak itu terdaftar. 

Itu baru satu kisah di antara ribuan kisah lainnya. 

Mari melanjutkan kisahnya. 

Kemudian ada lagi, setelah itu datang dua anak kembar. Mereka daftar di jurusan yang sama. Mereka diminta mengakses akun dari ponsel masing-masing, namun sayang ponsel mereka tidak sebagus milik teman-temannya yang lain. Bahkan salah satu di antara ponsel mereka baterainya habis. Yang satunya lagi tidak bisa menggunakan tombol screenshot. 

Alhasil, kami selaku panitia meminjamkan ponsel. 

Kemudian ada lagi, dia ingin masuk jalur nilai rapot. Namun sayang, nilainya tidak memenuhi. Saat kuberitahu begitu, wajahnya langsung berubah tegang, sedih, dan bercampur aduk. Aku tahu bagaimana perasaan anak itu. Seperti jatuh dari atas langit, bahkan lebih dari itu. Rasanya seperti jatuh dari jembatan sirotol mustaqim. Kalimat, "Maaf, nilai rapotnya tidak memenuhi. Jadi tidak bisa mendaftar lewat jalur rapot." Aku jamin kalimat itu yang akan dia ingat seumur hidup. 

Untungnya takdir berpihak padanya, dia kembali lagi datang dengan wajah gembira. Seolah baru mendapat emas batangan. Dia berkata, "Kak, aku bisa daftar lewat jalur zonasi? Soalnya lumayan dekat rumahnya?"

Aku mengangguk. "Nah, itu boleh."

"Alhamdulillah."

Aku tahu bagaimana perasaannya, dia hampir menangis saat satu temannya lolos jalur rapot namun dia tidak. 

Lalu ada lagi kasus yang sama, namun sayangnya takdir tidak berpihak padanya. Dia gagal lewat jalur rapot, ingin masuk ke jalur lainnya pun tidak bisa. Masalahnya semua persyaratan tidak dia penuhi. Alhasil dia berakhir pulang ke rumah.

Dari sedikitnya rangkaian cerita itu, ingatan ku kembali pada beberapa tahun silam. Saat di mana aku melihat saudaraku mengurung diri di kamar lantaran tidak bisa mendapat apa yang dia mau—sekolah favorit.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Salahkah bila kita menyerah?

Buruk Rupa