Menerima Kekurangan
Tidak ada makhluk yang sempurna selain penciptanya sendiri. Setiap manusia punya kekurangan. Setiap manusia tidak bisa hidup sendiri. Yang jadi pertanyaan ialah, selama ini apakah kita menerima kekurangan orang lain? Lebih berat dari pertanyaan itu ialah, apakah kita benar-benar sudah menerima kekurangan itu?
Aku juga bukan manusia sempurna, tapi bukan berarti tak bisa menghadirkan sosok yang baik. Sebisa mungkin, manusia menunjukkan sisi baiknya sebagai daya tarik pada manusia lain. Kita hidup dengan banyak kekurangan. Kita hidup bersama orang yang punya kekurangan. Pernah bertanya dalam hati, sedekat ini hubungannya apakah dia menerima kekurangan kita? Bagaimana cara dia menerima kita apa adanya?
Kadangkala, pertemanan yang sudah dibangun puluhan tahun berujung pengkhianatan. Hubungan asmara yang terjalin belasan tahun berujung perpisahan. Padahal, semakin lama hubungan harusnya semakin mengeratkan intuisi, semakin mengeratkan ikatan hati. Bukannya malah berujung sakit hati. Maka di sinilah pertanyaannya, kenapa? Karena segala kekurangan kita dia tahu dan dia tidak suka dengan itu. Ibarat kita mau makan tapi makanannya basi, mana mungkin kita makan, pasti kita buang. Kita terlihat basi di matanya, kita terlihat seperti monster yang harus dijauhi, kekurangan kita dipandang buruk olehnya. Tapi apa ini salah? Kalaupun ada pilihan, lebih baik kita pilih kesempurnaan tanpa kekurangan, kan? Kalau kekurangan dijadikan alasan untuk pergi, lalu apa alasan datang?
Menerima kekurangan adalah ketika kita terus kembali padanya. Ketika hati ini selalu memaafkan kesalahannya. Ketika kita merasa dia adalah rumah kita. Seperti keluarga. Sejauh apapun kita melangkah, jalan pulangnya ialah mereka. Yang menerima kita tak hanya baiknya saja. Yang menyayangi kita dengan sangat tulus. Yang selalu ada untuk kita, kapanpun dan dimanapun. Tangan mereka akan selalu terbuka untuk kita. Tak peduli berapa banyak kesalahan yang kita buat. Tak peduli berapa banyak kita menyakitinya. Tak peduli seberapa banyak kekurangan kita. Matanya selalu menanti kita dalam pelukannya.
Lee Siara
5 November 2022
Komentar
Posting Komentar