Bimbang
Bimbang
Pernah enggak ada dalam situasi di mana kamu bimbang dengan jalan kamu sendiri? Padahal di awal kamu sangat yakin dengan jalan yang kamu buat. Tapi pada akhirnya, saat perlahan kamu mendekati rencana kamu, kamu berpikir, "Apa ini memang benar jalan ku?" yang membuat kamu terombang-ambing bak kapal yang terserang badai di tengah laut. Tiba-tiba kamu mempertanyakan semua hal yang terjadi dalam hidup kamu. Padahal jauh sebelumya kamu sudah berkomitmen pada diri mu sendiri untuk tetap yakin pada langkah yang kamu ambi. Namun pada kenyataannya rencana Tuhan berbeda dengan mu. Kalau sudah seperti itu lantas kamu harus apa? Kamu sudah siap dengan rencana mu tapi belum siap dengan rencana Tuhan yang mengombang-ambing jiwa mu. Meski begitu aku percaya setiap rencana Tuhan akan berakhir baik untuk hambanya. Aku hanya perlu waktu untuk bisa memahami itu. Dan berada dalam posisi ini sungguh membuat ku stress. Aku takut. Aku takut jadi orang tidak berguna di dunia ini. Aku takut kehadiran ku hanya membawa beban di bumi ini.
Dulu aku bercita-cita ingin jadi dokter gigi karena alasan gigi ku banyak geripisnya sebab terlalu banyak makan coklat. Dulu aku juga ingin jadi ustazah hanya karena nilai agama ku besar kemudian beralih cita-cita menjadi guru SD sebab aku merasa pintar dan kala itu guru ku pernah bilang, "Yang paling susah itu jadi guru SD, selain ngajarin materi juga ngajarin caranya ngelap ingus." dan karena itu aku ingin jadi guru SD yang punya peran besar pada perkembangan anak. Kemudian aku berpikir, jadi guru it enggak mudah, kalau tiba-tiba aku lupa dengan materi yang akan aku jelaskan bagaimana? Jadi... ah sudahlah, aku tidak jadi bercita-cita jadi guru. Kemudian aku ingin jadi orang yang ada di meja bundar. Yaaa jadi pengacara atau jaksa begitulah, tapi teman ku bilang kalau, "kalau jadi pengacara terus belain orang yang salah tanggungannya di akhirat." Sebab takut, aku memilih jadi hakim saja yang memutuskan perkara kasus, jadi aku netral. Tapi kalau dipikir-pikir, kuliah hukum itu mahal, ditambah aku tidak mau kuliah karena aku tidak mau berurusan dengan mata pelajaran. Jadi ku putuskan tidak. Kemudian hidayah datang, aku mantap ingin jadi seorang presenter hanya karena banyak yang bilang aku jago public speaking. Maka dari itu aku menyusun strategi yang matang supaya goals ku terwujud. Tapi rencana Tuhan beda dengan ku, aku yang ingin masuk SMA justru berakhir masuk SMK dan masuk jurusan elektro. Terus banyak yang bilang kalau masuk SMK terus lanjut kuliah lebih baik pilih jurusan yang sama, aduh... kalau begini kan mana bisa aku masuk jurusan jurnalistik. Dan keinginan ku untuk tidak lanjut kuliah makin mantap.
Kemudian aku mencari jati diri, mengeksplore segala hal untuk bisa menemukan passion ku hingga berakhir di dunia tulis. Lalu aku berkeinginan kuat untuk menjadi seorang penulis yang menyebarkan hal positif lewat tulisan ku. Aku ikut kelas menulis online kemudian berusaha membuat satu novel yang berhasil terbit lewat seuah event dan baru dibeli dua orang. Kemudian ikut beberapa event antologi yang... sepertinya kurang dari sepuluh. Aku mencoba menulis diplatform berbayar dan berhasil menulis lima karya. Tapi tiba-tiba aku berpikir, apakah benar bidang ku ada di sini? Kenapa aku tidak memiliki followers instagram yang banyak? Seperti penulis lainnya yang baru terbit satu buku dan terkenal sudah banyak pembaca. Lah aku? Lebih dari satu karya aku buat tapi sepertinya belum banyak pembaca. Apa karena cerita ku tidak bagus? Tapi kalau aku memuji diri sendiri, dari segi penulisan aku tidak kalah hebatnya dari yang lain. Dan aku suka lihat teman-teman yang kadang post musikalisasi puisi atau quotes sedangkan aku hanya baru beberapa. BUkankah aku membuktikan kalau aku belum bisa komitmen dengan passion ku?
Fyuh...
Dan sekarang aku tidak yaki apakah aku benar-benar penulis atau bukan. Katanya kalau mau jadi penulis itu harus banyak nulis, tapi... aku belum terlalu banyak menulis. Katanya kalau mau jadi penulis yang baik ya harus banyak baca, tapi buktinya aku belum komitmen lagi. Keinginan ku ditantang oleh kegiatan ku sendiri. Aku belum bisa komitmen dan itu membuat ku ragu. Ditambah prinsip ku yang sudah tertanam adalah melakukan apa yang aku suka.
Aku pernah bertanya sendiri saat hendak tidur, begini, "Apa ada ya pembaca setia, ku? Satu pun tidak apa. Apa ada ya yang terinspirasi dari tulisan ku, yang menjadikan aku sebagai motivator? Apa ada yang mengakui kemampuan ku menulis? Apa aku benar-benar berguna di bumi ini sebagai seorang Tuniasih?" Aku kerap menanyakan itu dalam pikiran ku dan itu yang mengganggu ku setiap malam.
Fyuh...
Sepertinya ini yang paling terpanjang, ya? Hahaha tidak apalah. Meski aku bimbang dan iri pada kehidupan orang lain yang lebih baik dari ku, aku percaya kalau... mimpi itu nyata, Tuhan memberikan mimpi pada setiap hambanya. Aku yakin, rencana Tuhan selalu indah. Yang terpenting adalah tanamkan keyakinan dalam hati kita, tanamkan hal-hal baik dan coba saring yang buruk.
24 Juli 2022
Lee Siara
Komentar
Posting Komentar