Sesuatu yang Terjadi

 Ini adalah kali pertama dalam hidup ku aku menghadapi seorang anak yang sangat disayangi orang tuanya. Suatu ketika saat kegiatan LDK, aku menegur anak itu dimuka umum. Sebab dia tidak memperhatikan aku berbicara dan tidak memiliki sikap yang baik. Kemudian dua hari setelahnya dia menghubungi ku, mengatakan kalau mamah nya marah karena aku mempermalukannya di muka umum. Kemudian dia berkata, "Mamah marah karena Teteh malu-maluin aku di muka umum. Ini baru pertama kali aku dimarahin mamah, sebelumnya enggak pernah sama sekali. Aku Enggak diperhatikan lagi sama mamah. Aku kangen perhatian mamah."

Dia berkata kepada ku setelah dia bercerita kepada mamah nya. 

"Kamu tahu enggak, kenapa saya negur kamu?"

Dia menggeleng. "Enggak tahu, makanya aku bingung mau jawab apa pas itu. Aku juga pusing waktu itu."

"Saya juga gak tahu kamu pusing, dan kamu gak tahu saya ngomong apa karena pusing, iyakan?"

Dia diam. 

Lalu aku mengatakan rentetan wejangan kepadanya. Wejangan yang biasanya guru ku berikan, aku salurkan kepadanya. Salah satunya ini. 

"Dalam hidup, kita tidak tahu mana yang benar-benar benar dan mana yang benar-benar salah. Karena sebagai hamba, kita selalu salah. Yang tahu hanya Tuhan. Saya salah, kamu salah, mamah kamu juga salah, saya benar, kamu benar, mamah kamu juga benar. Bukankah segala sesuatu hal ada baik dan buruknya? Coba kamu renungkan, apa yang udah kamu lakukan sampai kamu ada di posisi seperti ini. Apakah itu salah atau benar? Pasti keduanya ada."

Dia diam, sepertinya sedang berpikir maksud ku. Dia sedang merenung apa yang terjadi. Dari situ aku sudah bisa membaca bagaimana karakternya, terlebih ketika dia bilang ini adalah kali pertama dia dimarahi. Aku langsung paham itu. Tidak, aku tidak menghakiminya. Karena setiap orang berbeda, tidak bisa disamakan. Jadi kala itu, aku memberikan penjelasan sekaligus wejangan dan solusi dia untuk keluar dari zona hitam nya. Aku berikan itu dengan kalimat yang ku rangkai indah namun tetap kesan mendalam. 

Dia semakin berpikir dan aku sedikit berhasil menyadarinya. Kemudian dia minta maaf, aku juga minta maaf. Kita sama-sama salah. Lalu kutanya kenapa dia minta maaf, dia bilang, "Kan, kata Teteh gak ada yang benar dan gak ada yang salah."

Dari situ aku menyimpulkan kalau dia bisa menangkap penjelasan ku. Aku bangga padanya karena dia bangkit kembali, karena dia mengerti maksud ku, dan tekad dia untuk menjadi lebih baik ada lagi. 

Agak lucu memang, tapi aku tidak boleh tertawa. Aku bukan orang bodoh yang mentertawakan hal benar. Aku juga tidak bermaksud membenarkan, tidak juga bermaksud menyalahkan. Hanya saja dalam hidup, kita harus mengerti betul apa itu "Kehidupan" yang sebenarnya. Apakah hanya sebuah kata? Atau tempat dimana kita berada? Atau suatu kata dan tempat dimana kita berada bersama dengan lingkar apinya? 

Eumph, gimana juga ya aku bingung. Intinya memang, dunia itu kejam. Kalau kita gak belajar buat jadi kuat ya kita bakal terus ditindas. Apapun itu, renungi dan temukan dimana kamu berada. 


Senin, 29 November 2021.


Siara. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

TENTANG MEREKA

Salahkah bila kita menyerah?

Buruk Rupa