Gara-Gara Sean
"Gue stress! Udah cukup semua ini! Gue butuh healing!"
Gimana enggak stress coba, dari pagi otak gue kerja terus tanpa henti. Dimulai dari bangun tidur, gue udah diteriakin sama mama buat bangun dan beresin rumah sebelum berangkat sekolah. Kemudian tiba di sekolah gue didatangi walikelas dan diminta untuk membagikan formulir surat undangan orang tua, dan dia minta jam istirahat nanti harus sudah dikumpulkan. Berhubung gue enggak bisa bagiin formulirnya langsung, karena gue harus ke ruang OSIS dulu untuk suatu urusan organisasi kemudian sepuluh menit sebelum bel gue ke ruang Pramuka untuk urusan organisasi juga. Ya, gue adalah seorang aktivis yang double organisasi dan kebetulan gue berada dalam posisi penting dikedua organisasi tersebut. Enggak penting-penting banget sih, cuma keberadaan gue dikedua organisasi itu cukup ... berpengaruh.
Maybe.
Setelah itu bel masuk bunyi, gue langsung masuk ke kelas dan langsung disambut ulangan matematika yang mampu membuat produksi asap hitam di otak gue. Oke, itu memang lebay. Tapi emang kenyataannya gitu. Gue tuh, ngerasa kalau dihadapkan sama rumus dan angka, berasa otak gue itu langsung produksi asap hitamnya. Dan satu jam berlalu, gue berkutat dengan LJK gue.
Gue terus merutuki nasib waktu itu, karena gue beneran enggak paham dan enggak ngerti. Namun dengan kemampuan kepercayaan diri gue dan kemampuan otak yang gue miliki, gue berusaha jawab dan berakhir dapat nilai 8. Gue bersyukur, tapi masih kesal karena lawan gue di kelas dapat nilai 9. Gue paling enggak suka saat posisi gue seperti ini. Gue kesal karena semalam waktu gue dibagi-bagi yang harusnya buat belajar full tapi ternyata kebagi buat ngerjain tugas dikedua organisasi yang gue emban.
Setelahnya pelajaran berganti bahasa Indonesia. Sebetulnya gue seneng sama pelajaran itu, tapi entah kenapa kali ini gue beneran muak saat guru jelasin materi. Kepala gue masih nyut-nyutan karena soal matematika tadi, ditambah disuruh mikir pakai daya nalar. Saat itu, kepala gue beneran kayak mau meledak.
Jam istirahat tiba, gue bilang sama sekretaris kelas, "Na, formulir udah dibagiin, kan? Mintain anak-anak suruh ngumpulin, ya?" Dan kalian tahu reaksi gue apa setelah Nana berkata, "Duh, gue lupa formulirnya belum dibagiin. Lo kan tahu, tadi gue ke ruang Pramuka dulu." Gue mengelus dada, berusaha untuk sabar. Berusaha meredam api di dada gue dengan air liur. Oke, Nana itu sekretaris kelas gue dan gue menduduki posisi sebagai KM. Nana juga satu organisasi Pramuka bersama gue.
Gue merasa ... ah, yasudahlah!
"Kenapa enggak lo kasih ke anak yang lain?"
"Gue lupa, pas lo ngasih formulir ke gue di depan ruang guru tadi, gue langsung ke ruang Pramuka. Enggak sempat ke kelas. Lo juga tadi enggak ingetin."
Gue menepuk jidat. Tidak! Lebih tepatnya menggendorkan kepala gue di atas meja. Enggak bisa gue bayangkan setelah ini apa yang akan terjadi pada gue. Jadi sebetulnya, siapa yang salah antara gue dan Nana?
"Yaudah, gue bagiin sekarang aja," kata Nana.
"Mau bagiin ke setan? Anak-anak lagi di kantin setan," kata gue.
Sekarang Nana sadar, bahwa di kelas dengan hawa kekesalan gue, hanya ada kami berdua. Dia nyengir, seperti tidak merasa kesal. "Oh, iya. Jadi gimana?"
Sebab pertanyaan Nana yang membuat api itu kembali hidup dalam tubuh gue, gue bangkit dari kursi dan meninggalkan Nana di kelas sendirian. Keluar kelas menuju kantin, berniat untuk mengisi amunisi. Tapi sepertinya tidak cukup sampai di situ. Liam—pradana Pramuka yang selalu dikira orang non-muslim itu menghancurkan niat gue saat dia berkata, "Susunan kegiatan untuk ekskul ada di Dimas dan sekarang dia enggak masuk sekolah karena kesiangan. Lo bisa buat susunannya lagi, kan? Hari ini harus koordinasi." Dan aku tidak bisa mengelak karena dia bilang, "Harus hari ini Sia, jangan nanti-nanti."
Dan baiklah, waktu istirahat gue sepenuhnya direnggut Liam. Dan ketika ingin makan, bel masuk sudah berbunyi. Gue awalnya ingin bolos pelajaran, tapi Sean—anak baru yang satu minggu ada di sekolah ini dan langsung masuk dua organisasi yang sama dengan gue berkata, "Katanya anak aktivis yang baik hati, kok sikapnya jelek gitu?"
Gue mendelik padanya. "Bacot! Gue lapar."
"Gue bisa aja sih, fotoin lo yang lagi makan di kantin pas jam pelajaran di mulai. Nanti pas semua orang tahu mereka bilang, 'Ih, Siara ternyata nakal juga. Padahal, suka ngomelin anak nakal'."
Sungguh, mendengarnya membuat kepala gue tambah nyut-nyutan. Dan akhirnya, gue mendesis kasar dan pergi dari kantin. Sebelum gue pergi, gue menginjak sepatu dia tapi enggak membuat dia meringis.
Dan hal-hal yang menyebalkan tapi tetap gue lakukan itu terjadi sampai sekarang gue duduk di ruang OSIS bersama dua teman gue yakni Dhila dan Sasi.
"Sabar kali, bentar lagi juga kita studytour," kata Sasi yang duduk di balik laptop.
"Gue maunya sekarang, bukan nanti!"
Dhila berdecak. "Ya ampun Siara, bukannya baru satu minggu yang lalu lo touring sama anak-anak Pramuka?"
"Tapi setelah itu gue merasa stress lagi!"
"Artinya, mau lo pergi sejauh manapun untuk healing, itu enggak akan membuat keadaan lo membaik. Karena pada dasarnya masalah lo itu ada di sini, tempat lo berada. Jadi, lo harus berdamai sama relationship lo sendiri," kata Sasi.
Dhila menjentikkan jari. "Gue saranin, jangan lo ambil pusing masalah dalam hidup lo, lo bikin enjoy. Oke?"
"Gila, ya! Gimana mau dibikin enjoy. Gue enggak bisa tenang kalau segala sesuatu enggak sesuai sama apa yang gue mau."
"Karena lo ambis, Sia," kata Sasi, "lo kendaliin ambisi lo itu. Lagian gue heran, kalau lo merasa tertekan karena posisi lo, kenapa lo enggak keluar?"
"Kalau udah cinta mah beda, Si. Mau seberat apapun tugas yang Siara ambil, kalau dianya suka mah ya enggak akan benci. Meskipun dia sendiri tertekan," kata Dhila.
"Tapi serius gue pusing, lihat lo tiap hari kayak orang ... stress. Lo masih muda, Sia," kata Sasi.
"Lo pikir gue akan jadi gila gitu di usia muda?" tanya gue. Gila aja, kedua teman gue ini enggak ada yang punya otak normal.
Sasi dan Dhila tertawa kecil. Bagi mereka, melihat gue yang mengeluh stress ini adalah hal yang biasa. Mereka tidak tahu saja seperti apa gue sebenarnya.
Gue beranjak berdiri yang menimbulkan pertanyaan dari Dhila.
"Mau kemana lo?"
"Cari makan, laper gue."
"Ya makan di rumah atuh, Siara," kata Dhila.
"Tauk ah, di rumah males."
Gue segera keluar dari ruang OSIS, berjalan menuju kantin, berharap masih ada warung kantin yang buka dan menyediakan makanan. Gue sangat berharap itu.
Sepanjang perjalanan gue rapalkan doa itu, berharap yang kuasa segera mengabulkannya. Tapi sayangnya saat gue ke sana dan bertanya pada ibu kantin, dia menjawab, "Waduh ... baru aja tadi ada yang beli nasi, itu nasi terakhir."
Dan lengkaplah sudah penderitaan gue hari ini.
Gue keluar dari kantin dengan perut keroncongan dan tenggorokan kering. Gue tidak berharap banyak, hanya mengharapkan makanan dan minuman yang terhidang.
Gue melangkah lunglai melewati lapangan futsal, melihat anak cowok yang bermain futsal dengan keringat yang terus mengalir. Gue melenguh panjang, menatap perut dan menepuk-nepuknya.
"Sabar, ya ... bentar lagi makan, kok."
"Lo hamil berapa bulan?"
Gue kaget dengan pertanyaan itu. Gue balik badan dan menemukan Sean yang memakai baju futsal dan ... menenteng sebungkus nasi beserta sebotol aqua.
"Apaan sih, enggak lucu!" sarkas gue.
"Dih, siapa juga yang lagi ngelawak. Gue kan lagi tanya, lo hamil berapa bulan?"
"Gila lo, ya! Lo pikir gue cewek apaan?"
"Cewek yang memiliki tingkat stress dan depresi yang tinggi sehingga untuk mencari kepuasan lo me—"
Plak!
Mulutnya emang kurang ajar. Dengan sisa tenaga gue, gue memukul pipinya dengan hape gue sendiri.
"Cover doang lo cowok! Mentalnya cewek! Lemes banget mulut lo!"
Gue enggak tahu apa yang ada dipikiran Sean setelah gue mengatakan kalimat itu. Dia tiba-tiba natap gue dengan tatapan yang ... sulit gue jabarkan. Dia mendekat dan gue refleks mundur. Tapi sayangnya, tangannya beralih ke pinggang gue untuk menahan gue supaya enggak bergerak mundur. Kalau dihitung, jarak gue sama dia itu hanya setengah jengkal. Ditambah dia yang mensejajarkan posisi wajahnya dengan gue dan jadi sok romantis dengan mendekatkan wajah.
Bisa gue rasakan deru napas hangat dan bau jigongnya saat dia berkata, "Lo mau gue tunjukkin kejantanan gue?"
Hii, ini cerpen pertama yang ku tulis di sini.
Selasa, 09 November 2021
Siara
Komentar
Posting Komentar