Dua Kubu
Pernah enggak, sih, suka dibanding-bandingkan? Suka diomongin yang enggak-enggak? Suka diomongin padahal kenyataannya enggak gitu?
Ah, aku yakin pasti semua mengalami hal itu. Gimana perasaannya saat itu? Duh, jangan ditanya, deh. Kalau udah pernah rasain pasti jelasinnya panjang kali lebar. Kalau belum rasain akan aku kasih tahu. Rasanya tuh, kayak kalian naik rollercoaster dan saat wahana itu bergerak kalian takut terjatuh dari tempat duduk. Padahal sudah jelas-jelas kalian bakalan aman ditempat duduk itu. Kalian takut naiknya tapi kalian penasaran karena tantangan adrenalinnya. Kurang lebih seperti itu. Adakah pendapat kalian yang lain?
Jadi suatu ketika aku masuk sekolah, kebetulan aku adalah anak SMK. Waktu itu aku ada jadwal produktif. Setahun yang lalu saat aku duduk di bangku kelas 10 aku dilirik oleh guru-guru produktif keahlian ku karena kemampuan otak yang kumiliki. Namun ketika kelas 11 sekarang aku dilirik karena dirasa kemampuanku turun. Aku akui, potensi ku belajar memang menurun. Tapi tidak sepenuhnya, semua tugas selalu ku kerjakan tepat waktu. Meski memang saat di kelas aku tidak seantusias kelas 10. Sekarang aku harus membagi waktu ku untuk dua organisasi yang aku emban. Karena kerap melihat aku sering bolak-balik saat event atau perencanaan event, mungkin saat itu aku dikira terlalu fokus ke organisasi. Padahal tidak seperti itu.
Jika seandainya aku fokus pada organisasi tentunya aku akan telat mengumpulkan tugas dan jarang mencatat. Tapi pada kenyataannya aku selalu tepat mengumpulkan tugas dan catatan ku penuh. Tidak seperti anak organisasi lainnya yang telat dan jarang mencatat. Aku akui, kita memang harus membagi waktu. Ini memang resiko yang aku emban. Mana mungkin aku meninggalkan organisasi yang membuat aku berbeda dari anak-anak lain? Aku yang jauh lebih kuat, hebat, ekstrovert, ambisi, kreatif, dan lain sebagainya.
Aku ingat sekali bagaimana mereka mengingatkanku bahwa aku jangan terlalu sibuk di organisasi dan membandingkan ku dengan teman yang tidak ikut organisasi. Padahal, aku dan teman yang dibandingkan sama baik. Sebetulnya aku bersyukur karena mereka benar-benar memperhatikanku. Karena mereka, aku sadar kalau aku harus lebih profesional membagi waktu.
Lalu yang jadi pertanyaan. Apa salahnya orang ikut organisasi? Bukankah itu melatih softskill sekaligus hardskill? Bukankah lebih baik manusia memiliki dua skill itu daripada salah satunya? Aku tidak menyalahkan siapapun di sini, aku hanya mengajak untuk mari saling berpikir melengkapi bahwa di dunia ini tidak tahu siapa yang benar-benar salah dan benar-benar yang benar. Aku percaya, setiap tindakan selalu merugikan dan menyenangkan.
Memang, kadang banyak orang yang berpikir sebelah otak tentang anak organisasi. Entah kenapa bisa berpikiran seperti itu. Namun satu hal, kecintaan tidak bisa mengalahkan apapun.
Guru ku ada yang bilang seperti ini:
"Siara, jangan terlalu fokus ke organisasi. Bagi waktu yang benar." Dan sejenis kalimat seperti itu lagi.
Ada juga yang bilang seperti ini:
"Kita itu hidup harus punya pengalaman. Mencari pengalaman di sekolah tidak hanya dengan kita belajar, salah satunya dengan ikut organisasi kita akan dapat pengalaman. Setidaknya kita ikuti organisasi atau melakukan sesuatu hal yang sesuai dengan passion kita. Pengalaman organisasi tuh, membantu banget. Softskill dan hardskill itu kita dapetin. Tapi bukan berarti orang yang enggak ikut organisasi enggak baik. Semuanya hebat, sesuai dengan passion kita dan kita menjalaninya dengan baik." Dan sejenis kalimat seperti itu.
Apapun itu kalimatnya, seperti itulah hidup. Jika ditanya apakah tertekan? Jawabannya iya, mana ada yang tidak tertekan. Tapi perasaannya itu yang membuat tantangan untuk diri kita sendiri bahwa kita bisa mengatur jalan hidup sendiri. Kalau menuruti kemauan orang lain tidak akan selesai, begitupun dengan kemauan sendiri. Kepuasan tidak pernah ada, orang selalu serakah meski itu hanya 1% keserakahannya.
Jadi seperti itulah hidup, kita belajar kuat dari itu.
Selasa, 02 November 2021.
Komentar
Posting Komentar