Buruk Rupa

 Selamat malam, aku menyapa kalian lagi setelah mendapat pengalaman hidupku yang menarik. Kali ini akan aku ceritakan  kejadian 3 hari yang lalu, dimana sesuatu hal terjadi yang membuat hidupku sangat kacau. Seseorang meletakkan sebuah barang yang hilang ke dalam tasku, entah siapa pelakunya aku tidak tahu. Mungkin dengan kalimat panjangku ini, dia membacanya. Dan berharap dia segera menuntaskan tanggung jawabnya. Dan untuk tersangka, jika seandainya bukan kamu pelakunya tidak perlu risau. Aku tidak akan mempermasalahkan itu, tidak usah tidak enak jika memang bukan kamu. Mari saling berpikir secara rasional. 

Waktu itu aku begitu sibuk. Ah, memang setiap hari aku sibuk. Aku double organisasi yang mengharuskan aku bolak-balik ruangan sebanyak ribuan kali dalam satu hari. Singkat cerita, aku tidak tahu kejadian yang sesungguhnya seperti apa. Namun satu hal yang aku tahu, saat aku kembali dari organisasi ku yang satunya aku mendengar kabar bahwa ponsel Naila hilang. Karena aku tidak tahu seperti apa kejadiannya aku diam saja, aku berpikir bahwa satu jam kemudian atau lima belas menit kemudian akan ketemu. Toh juga, aku percaya bahwa teman-temanku bukanlah orang seperti itu. 

Saat itu suasana sedang ramai karena pengujian SKU, aku duduk bersama Tifa dan selalu bersama dia karena dia adalah teman dekatku. Pengajian SKU berlanjut begitupun dengan teman-teman yang mengkhawatirkan dimana keberadaan ponsel Naila. 

Singkat cerita saat hendak pindah ke lapangan, aku memindahkan tas dari barak ke ruangan. Kemudian aku pergi ke lapangan. Di sana kami menguji SKU. Dan di sela-sela itu aku baru bertanya pada Naila. 

"Nail, hape kamu ketemu?"

Naila menggeleng. "Belum."

"Memangnya tadi kamu taroh dimana?"

"Aku tadi taroh hape di barak, aku titip ke Tifa. Terus tiba-tiba pembina datang. Anak-anak pada keluar barak dan Tifa bilang saat itu dia naroh hapenya di atas tumpukan tas-tas. Pas aku tanya sama dia, dia bilang enggak tahu."

Aku diam, berusaha memahami situasi Naila yang takut setengah mati. 

"Aku takut pulang, aku takut dimarahi kakakku."

Aku bisa merasakan bagaimana risaunya dia saat itu, bahkan teman-teman yang lain sekalipun. Kami menenangkan Naila dengan kalimat bahwa ponsel dia pasti ketemu. 

"Naila, terakhir hape kamu cuma di Tifa?"

"Enggak, ada teman-teman lain juga."

"Kamu nyurigai temen enggak?"

Mata Naila bergerak seperti mencari sesuatu. "Sebetulnya aku curiga sama Tifa, entah kenapa dia enggak berani natap mata aku dan ekspresi dia kayak was-was orang salah itu."

Kala itu aku tidak percaya bahwa Tifa melakukannya, itu sangat mustahil. 

"Kata ramalan Abah, sebetulnya orang itu mau nyimpen hape aku biar enggak ilang. Tapi keburu dia bilang enggak tahu dan teman-teman pada ribut hape ku ilang dia jadi enggak berani ngasih karena takut dituduh. Padahal ya, face to face sama aku enggak masalah. Dan, orang yang bilang enggak tahu itu Tifa. Dia orang pertama yang bilang itu."

"Aku juga curiga sama dia, ekspresi dia itu mendukung banget kalau itu dia pelakunya," kata Loli. 

Dan begitupun dengan pendapat teman-teman yang lain. Tapi aku berusaha tidak percaya, mana mungkin Tifa. Kalaupun itu emang dia, dia pasti bakal balikin. Aku percaya pada keberanian dan kebenaran Tifa. Aku meneliti teman-temanku, mencari siapa yang berwajah was-was. Tapi diantara wajah-wajah itu tidak ada yang meyakinkan ku. 

"Pas aku coba hubungi hape Naila pertama itu terhubung, kedua kalinya enggak," kata Loli. 

"Artinya yang nyimpen orang yang paham itu. Emailnya juga mati, kan? Hapenya dimatikan?" kataku. 

Naila sangat cemas kala itu. Maka setelah selesai pengujian kami membantu mencari ponsel Naila lagi. Meski hanya sekitar 10 orang yang membantu. Naila bilang, "Kata Abah hape aku pasti akan balik, karena itu masih milik aku. Dia bilang, meskipun hapenya ketemu yang ngasih bukan pelaku, tapi orang lain. Dan Abah bilang hape ku ada di ruangan sebelah barat."

Kami mencari ponsel Naila disetiap ruangan di pojok barat. Dan hasilnya nihil, tidak ada. Tapi satu hal yang membuatku cemas, aku merasakan ada sesuatu di dalam tasku. 

"Coba cari ditas masing-masing, kali aja pelakunya ditaroh ditas orang," kata Danu. 

"Tadi udah sempet nyari ditas-tas sampe kedalem-dalemnya tapi enggak ada," kata Naila. 

"Coba aja dulu," kata Loli. 

Aku bergumam, "Malas, ribet." Tapi tetap aku lakukan untuk mencari ponsel Naila. Di resleting pertama tidak ada, resleting kedua tidak ada, resleting ketiga tanganku langsung bergetar, jantungku memompa cepat, dan pikiranku kacau saat merasakan sesuatu di sana. Aku benar-benar terkejut saat mengatakan, "Ini ponsel siapa?" Dan mereka sama terkejutnya seperti ku. 


Senin, 01 November 2021.


Siara. 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

TENTANG MEREKA

Salahkah bila kita menyerah?