ORANG-ORANG YANG BERTAHAN
Selamat malam!
Malam sunyi kembali hadir. Kali ini aku menulis ditemani suara jangkrik dan juga cicak. Terdengar merdu di telinga ku, seperti suara melodi yang selaras nan harmonis. Suasana sunyi seperti inilah yang ... aku begitu sukai.
Malam sunyi kembali sukses membuat ingatan ku terlempar pada beberapa waktu lalu. Akan ku ceritakan sebuah kisah tentang mereka yang masih tetap bertahan.
Aku mulai dari pagi, saat kegiatan sekolah berlangsung dan aku menjadi seorang panitia. Kala itu, adik tingkat ku dituntut datang pagi pada pukul 06.30, dan bila mereka telat maka akan dihukum dan namanya akan disetorkan pada wakasek kesiswaan. Saat aku menjadi panitia, banyak sekali adik tingkat ku yang datang terhambat, alhasil mereka terkena hukuman oleh panitia.
Saat jarum jam menunjuk angka tujuh, apel dimulai. Dan lewat lima belas menit apel selesai. Ku pikir setelah ini tidak ada yang datang lagi, tapi ternyata dugaan ku salah. Ada sekitar empat murid yang baru datang seusai apel, mereka terpaksa berlari dari gerbang menuju lapangan. Tiga di antara mereka lebih dulu datang bergilir, sebelumnya mereka lebih dulu ditanyai alasan datang terlambat. Dan tak lama seorang adik tingkat pria berlari masuk barisan yang telat. Yang aku tangkat saat itu adalah deru napas yang beradu, dadanya naik turun, keringat mengalir deras, masker yang dikenakannya kembang kempis karena napas. Ku pinta dia menuliskan namanya sambil duduk, sambil menetralisir keadaannya yang persis seperti dikejar zombie.
Aku sudah iba padanya saat pertama kali datang dengan napas terengah-engah dan ekspresi terkejut yang seolah berkata, "Astaga, aku telat! Bagaimana ini!" Dia terlihat syok saat melihat teman-temannya baris di lapangan sedangkan dia di tepi lapangan, kentara sekali wajah kecewanya yang datang terlambat.
"Kenapa datang telat?" tanya ku.
Dia menjawab dengan napas yang memburu, "Maaf, Teh ... tadi saya nyari pinjeman dulu sama saudara, sama tetangga buat uang saku saya hari ini."
Deg!
Mendengarnya hati ku tersentil, rasanya aku berdosa sekali memisahkan di sini. Jelas-jelas dia tidak ingin telat, tapi apa daya, keadaan membuatnya telat.
Mungkin, orang lain akan memilih bolos, tapi dia tidak.
Aku tidak bisa menjabarkan dengan detail bagaimana perasaan iba ku kala itu. Sebab aku pernah ada di posisi itu, bagaimana rasanya ketika ingin berangkat sekolah sedangkan orang tua tidak memiliki uang untuk uang saku anaknya. Sehingga dengan sabar dan jantung bergetar, aku menunggu mama pulang dengan uang pinjaman.
Aku yakin ini bukan kasus pertama, kasus seperti ini amat lazim terjadi. Khususnya pada golongan menengah ke bawah.
Lalu pernah aku melihat seorang bapak-bapak berjualan, menjajakan jualannya mengelilingi desa. Lalu ketika lelah, dia beristirahat di bawah pohon sambil menghitung hasil penjualan yang tidak seberapa, yang mungkin masih bisa dikatakan kurang untuk makan besok.
Bapak penjual itu yang terpaksa menepikan dagangannya dikala hujan dan harus menelan kerugian tapi tidak pernah menyerah karena keadaan. Dia orang yang paling kuat, paling tabah, dan paling segalanya di dunia ini. Tidak hanya ada satu atau hitungan jari, Orang-orang itu yang selalu ku temukan tiap harinya. Yang memberikan aku pelajaran bahwa ... hidup tidak boleh menyerah, apapun keadaannya kita harus tetap bertahan. Mengeluh boleh, itu hal yang wajar. Namun menyerah, sepertinya kata itu harus di hapus dari buku primbon manusia.
06 September 2021
Komentar
Posting Komentar