Pahlawan yang terlupakan

 Selamat pagi, mungkin kalian saat membaca blog ini dipagi hari, siang, sore, atau bisa jadi malam. Aku menulisnya dipagi hari, saat embun sejuk menerpa kulit wajahku. Saat angin pagi menyibak rambutku. Aku suka pagi, hariku dimulai lagi pagi, melakukan kesalahan lagi, lalu menyesalinya lagi. Baiklah, aku akan menceritakan sebuah kisah tentang seorang pahlawan. 

Bagiku, pahlawan adalah mereka yang berjuang untuk seseorang. 

Saat ini masanya pandemi corona, semua kegiatan terbatas, termasuk ekonomi. Waktu itu aku pergi ke suatu tempat, dan saat mobil yang kutunggangi berhenti tepat di lampu merah, aku membuka sedikit kaca mobil. Seorang bapak tahu-tahu menghampiri ku dengan membawa dagangannya, aku menolak. Kemudian diganti dengan seorang anak yang membawa tissue, aku menolak lagi. Ku ikuti kemana mereka melangkah dengan mataku, ternyata mereka menjajakan dagangannya kesemua mobil yang berhenti. Tapi naas, tidak semuanya membeli dagangan mereka. 

Bagi mereka lampu berwarna merah adalah jalan hidup mereka. Bila lampunya berubah jadi hijau, maka jalan hidup mereka seolah terputus. 

Aku menghela napas, membayangkan diriku berasa di sana bersama mereka. Di bawah sengatan matahari dan debu polusi. Sangat rentan bagi mereka untuk sakit. Terlebih, bagaimana jika mereka tertabrak? 

"Dek, mau beli tahunya enggak? Lima ribuan aja. Dibeli ya, Dek." 

Dia berkata denganku, aku melihat tahu yang dijajakannya masih banyak. Hatiku terhenyak melihat itu. "Ini jam satu siang, dagangan Bapak kenapa masih banyak?"

"Dari jam tujuh belum ada yang beli. Padahal, tahu bapak steril."

Aku merasa kasihan, maka aku membeli dagangan bapak itu, aku membelinya satu bungkus saja lalu dia tersenyum senang. Ya Tuhan, apakah sesederhana itu membahagiakan seseorang? Cukup satu, tidak perlu diborong semuanya, dia sudah sangat bersyukur. 

Aku tersentuh. 

Lampu berwarna hijau, mobil yang ku tunggangi perlahan melaju bersamaan dengan para penjual yang menepi supaya tidak tertabrak. Wajah melas mereka membuat jariku menari di atas keyboard laptop. 


02 Juni 2021.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

TENTANG MEREKA

Salahkah bila kita menyerah?

Buruk Rupa